Rabu, 13 Maret 2024
BELAJAR BERKATA "TIDAK"
Kamis, 08 Februari 2024
SPIRITUALITAS YANG SEHAT SECARA EMOSI
Salah satu hal yang saya syukuri adalah ketika boleh
menyelesaikan bacaan buku ini. Dengan berbagai kendala baik dari luar maupun
oleh karena diri sendiri, akhirnya saya bisa berada pada halaman yang ke 262
sebelum berada pada catatan-catatan kutipan pustaka sebagai penutup.
Saya tidak dalam konsep untuk merivew buku ini, tapi lebih
kepada menceritakan kembali apa yang saya terima atau bagaimana Tuhan berbicara
kepada saya melalui buku yang ditulis oleh seorang bernama Peter Scazzero ini.
Ada yang berkata bahwa umur tidak menjadi tolak ukur
seseorang menjadi dewasa. Dalam hal kerohanian pun saya punya pandangan bahwa
keaktifan seseorang melibatkan diri dalam pelayanan juga bukan menjadi patokan
akan tidak atau adanya kedewasaan orang tersebut secara rohani. Buku ini
memberikan gambaran bahwa dewasa secara rohani mustahil kita alami tanpa adanya
kedewasaan dalam emosi kita. Penulis menggambarkan bagaimana tanda dari orang
yang tidak dewasa secara emosi sampai kepada bagaimana kita dapat menjadi orang
yang dewasa secara emosi. akhir buku ini pun menarik, karena disuguhkan dengan
langkah-langkah untuk kita membuat aturan hidup yang menuntun kita untuk sehat
secara emosi dan rohani. Salah satunya adalah melakukan ibadah harian. Ada
panduan yang diberikan untuk para pembaca.
Dalam buku ini, penulis menceritakan juga bahwa ia sempat
berhenti (Sabat) dari segala rutinitas tersebut demi kesehatan emosi dan kedewasaan
rohaninya sendiri. Hal ini diperlukan agar kita tidak menjadi pembawa damai
palsu. Berusaha merangkul dan menuntun orang lain untuk bertumbuh, bahkan kita
sendiri pun menunjukkan diri selayaknya orang yang bertumbuh, namun sebenarnya
ada bongkahan es yang tidak tersentuh dalam diri kita. Akar kita sama sekali tidak terjamah atau
tersentuh. Kenapa demikian? Karena kita tidak menikmati Kristus dalam hidup
kita sendiri. Kita sering sibuk bagi Tuhan tapi justru tidak memiliki
kebersamaan dengan Tuhan.
Membaca buku ini seperti bercermin kepada diri saya sendiri
yang sering menghindari konflik, menunjukkan diri sebagai orang Kristen yang
taat dan yang mengasihi Kristus, namun pada akhirnya sering mengeluh, sering
merasa lelah, bahkan membenci orang lain dalam diam. Pada akhirnya semua ini
menekan saya dan membuat segala hal yang saya lakukan terasa memuakkan. Saya
sadar sepenuhnya bahwa sampai saat ini saya masih terus berproses dalam
spiritual yang sehat secara emosi. saya masih belajar untuk berserah pada
kehendak-Nya, dan membiarkan Roh Kudus menolong saya untuk bertumbuh didalam-Nya meskipun secara perlahan, dan meninggalkan segala tindakan yang membuat saya justru stunting secara rohani. Dengan demikian kasih terhadap Allah, kasih terhadap sesama bahkan
diri sendiri dapat terus terwujud. Kasih tidak akan pernah gagal untuk
mengajarkan apa yang seharusnya kita lakukan. Mari biarkan Tuhan untuk terus menjangkau bagian hidup kita bahkan yang terdalam sekalipun. amin
Senin, 01 Januari 2024
2024 dalam penyertaan TUHAN
Selasa, 20 Juni 2023
KENAPA HARUS SAYA?
Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, pertama kali saya ditunjuk menjadi pembaca teks UUD saat upacara. Jika diingat-ingat mungkin itu awal mulanya saya berubah kepribadian menjadi orang yang introvert. Meskipun rasa gugup adalah hal yang wajar, tapi respon saya terhadap rasa gugup saat itu sangatlah tidak wajar karena bukan hanya tangan dan suara, bahkan kaki dan pipi saya kala itu bergetar. Anehnya, pada upacara di minggu-minggu selanjutnya saya tetap ditunjuk untuk membaca undang-undang. Kenapa harus saya? Itu yang saya tanyakan kepada mereka. Sebab dari kejadian itu seharusnya mereka sadar bahwa saya tidak mampu untuk membaca Undang-Undang Dasar dengan baik.
Pernahkah kalian juga bertanya baik kepada diri sendiri atau orang lain dengan kata-kata "Kenapa harus saya?" Kenapa bukan orang lain saja yang menurut kita lebih mampu. Entahkan itu dalam dunia pekerjaan, dalam lingkup sekolah, dalam pelayanan, atau dimanapun kita berada pertanyaan ini bisa saja muncul, entakah itu karena faktor malas atau tidak mau melakukan sesuatu yang menyusahkan kita, atau karena faktor kitanya yang kurang percaya diri sehingga kita bertanya "Kenapa harus saya?"
Sewaktu Tuhan memanggil Musa dan memintanya untuk membawa Israel keluar dari Mesir, ia menolak. Ia beralasan, "Ah, Tuhan. Aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah" (Keluaran 4:10). Perhatikan jawaban Tuhan pada ayat berikutnya, "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan?" Tuhan ingin mengutus Musa melakukan pekerjaan-Nya tetapi Musa merasa tidak berkemampuan cukup untuk melakukan tugas itu. Jawaban Tuhan menegaskan bahwa Tuhan tahu kondisinya " sulit bicara " sebab Tuhanlah yang membuatnya seperti itu. Kendati Musa minder, Tuhan tetap memanggil dan akhirnya mengutusnya. Selama 40 tahun Tuhan memakai Musa memimpin Israel keluar dari Mesir. Keminderan Musa tidak menghalangi Tuhan memanggil dan memakainya; keterbatasan Musa tidak merintanginya melaksanakan dan menggenapi pekerjaan Tuhan.
Sudah sebulan sejak saya membentuk kelompok pemuridan dengan beberapa orang kunci di tempat saya Tuhan percayakan untuk melayani,yaitu Komisi Pemuda. Saya beryukur dari mereka saya banyak belajar tapi juga sekaligus mengajar mereka untuk bersama-sama bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Mereka pun dengan rendah hati mau belajar cara cerita injil, meskipun ada diantara mereka yang berlatar belakang teologi. Singkatnya, pada minggu yang lalu mulai ada multiplikasi dan kemudian saya membentuk kelompok PA yang baru dengan orang-orang berbeda tentunya. Tapi, sesudah pertemuan perdananya kami, ada hal yang membuat saya seakan tak bersemangat lagi. Pengaruh kata-kata dari teman pemuda ini sangat besar efeknya bagi saya. Mungkin ini juga salah satu bagian dari kelemahan saya yang mudah terpengaruh dengan penilaian orang akan diri sendiri. Tapi saya tak mau menyangkali bahwa ini sangat mengusik hati saya sampai-sampai di minggu yang baru lewat ini saya melewatkan jadwal PA kami. Teman saya itu berkata bahwa apa yang saya bagikan tak cukup membuatnya yakin karena saya bukan berlatar belakang Teologi. Mungkin karena penjelasan saya yang terbata-bata dalam cerita injil ataupun dalam merespon pertanyaannya. Memang Seharusnya penolakan seperti ini menjadi hal yang wajar bagi saya karena semasa kampus dulu saya pernah diajarkan bahwa membawa seseorang menerima Kristus itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Akan tetapi, entah kenapa dari kejadian ini timbul pertanyaan dalam diri " Kenapa harus saya?" Kenapa saya harus ditempatkan disini, melayani disini, dan bertemu dengam kepribadian orang-orang seperti ini. Kenapa Tuhan harus membuat saya yang orang awam ini untuk melayani-Nya.
Setelah direnungkan, sama halnya dengan Musa, ternyata banyak tokoh Alkitab pun yang demikian. Mereka mengeluh tatkala harus menerima tugas dari Tuhan. Tapi, Tuhan berjanji bahwa Dia yang akan menyertai mereka melalui semua tantangan yang ada. Tuhan dapat memakai siapa saja dan Tuhan tau sejauh apa kita mampu memikul salib untuk melayani Dia.
Kiranya kita semua pun tetap semangat dan terus bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Kamu pasti mampuš
Amin...
Sabtu, 19 November 2022
OVERTHINKINGš¤
Minggu, 05 Juni 2022
BELAJAR MERASA CUKUP
Ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. —1 Timotius 6:6
Melihat bahwa aku mulai mengalihkan objek cinta yang seharusnya fokus pada Tuhan, aku pun tertunduk dan menyesal. Memohon pengampunan dan pembaharuan diri dari Tuhan sehingga hal ini pun mempengaruhi rasa cukup dalam hidupku secara keseluruhan. Hanya Yesus yang sanggup memuaskan keseluruhan jiwaku. Tak ada yang lain. Dan aku pun percaya hal sama berlaku juga untukmu. Amin
Jumat, 22 April 2022
I am Not Alone
Ulangan
31:6
Kuatkan
dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab
TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan
engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.
Dalam sebuah artikel Kompas.com, kesepian merupakan
sebuah emosi kompleks ketika seseorang merasa tidak diperhatikan, tidak
berharga, sendirian, merasa tidak terhubung dengan orang lain, ataupun perasaan
tidak dicintai. Kondisi ini juga dapat diartikan sebagai sebuah keadaan merasa
terpisah dengan orang lain. Hal ini tentu dirasakan oleh setiap orang dan
sebenarnya ini hal yang wajar apalagi dalam situasi dan kondisi pandemi seperti
saat ini. Akan tetapi, hal yang tidak wajar adalah ketika perasaan ini terjadi
terus menerus maka akan berakibat fatal, baik untuk kesehatan fisik maupun
jiwa.
Perasaan kesepian ini juga tentunya tak lepas dari
diriku secara pribadi. Aku menulis blog ini tidak untuk menunjukkan bahwa aku
adalah orang yang paling kesepian di dunia, tapi setidaknya apa yang aku lewati
dalam proses kesepian ini dapat menjadi berkat bagi siapa yang membacanya yang
mungkin sedang mengalami hal serupa termasuk juga bagiku ketika kembali harus
diperhadapkan pada situasi seperti ini suatu saat nanti.
Mengawali tahun ini, aku diperhadapkan pada banyak
pilihan yang rumit. Itu menurutku. Entah orang lain punya cara pandang yang
berbeda, namun bagiku ini bukanlah hal yang mudah. Tuhan memberikanku tangung
jawab melayani dikampung halaman untuk waktu yang cukup lama, yaitu 5 tahun.
Sejak lulus kuliah, aku sering terhubung dengan komunitas aku melayani. Tour pelayanan Bersama, ibadah dan doa
Bersama, termasuk hang out Bersama.
Aku sangat menyatu dengan mereka karena merasa sangat diterima. Bahkan, dalam
situasi pandemi sekalipun tidak membuat semangatku hilang untuk bisa tetap ada bersama
dalam setiap kegiatan pelayanan dengan mereka. Sampai pada akhirnya, ketika aku
memutuskan untuk berkomitmen melayani disini, aku justru mengalami kesulitan untuk bisa terhubung secara langsung dengan
mereka. Banyak pelayanan yang tidak bisa kuikuti karena harus fokus ditempat
ini. Terpisah dari tempat yang membuatku nyaman ternyata dapat mendatangkan
rasa kesepian dalam diriku. Aku kekurangan waktu dengan mereka untuk berbagi masalah dan kisah hidup. Aku tak bisa menemukan orang yang benar-benar paham akan keadaanku di tempat ini. Syukurlah Tuhan menghadirkan aku seseorang yang
menjadi pengingat yang kuanggap sebagai pengisi relung hatiku yang kosong dalam sebuah komitmen hubungan. Aku bisa berbagi
dalam kasih, menceritakan segala pengalaman bahkan pergumulan hidup yang
dihadapi. Bahkan, aku disadarkan bahwa tidak seharusnya aku terus-menerus ada
dalam zona nyaman yang kuciptakan sendiri.
Memanglah benar bahwa manusia pada dasarnya tidak dapat memberikan kepenuhan apapun dalam dirinya jika hal itu diluar daripada Kristus sendiri. Selama kurang lebih 4 bulan dalam kondisi hubungan yang usai setelah kurang lebih 3 tahun lamanya dalam komitmen relasi pacaran. tentunya membuat perasaan hampa dan kosong kembali hadir. Meskipun ada ditengah-tengah orang banyak, perasaan ini tetap saja ada menggerogoti dan berusaha masuk ke dalam jiwaku. Kesepian ini sering membatku mengingat hal-hal menyakitkan yang terjadi. Tanpa disadari ini menunjukkan bahwa aku menjadikan manusia sebagai yang utama dan menempati tahta hati. Aku menerima Kristus tapi tidak membiarkan Dia yang berkuasa, sehingga hampir setiap saat aku menjadi orang yang mulai menyalahkan Tuhan dan menganggap bahwa Dia tidak ada bersamaku dalam keadaan yang sulit. Syukurlah ada banyak cara yang Tuhan pakai untuk mengingatkanku bahwa aku tidak sendiri. Ia memperbaharuiku setiap hari. Ruang hati yang kosong hanya dapat diisi oleh-Nya. Ia memberikan kepenuhan yang sejati. Momen perayaan Jumat Agung dan paskah yang baru lewat kembali menyadarkanku bahwa Yesus pun pernah mengalami kesepian yang mengerikan dan jauh lebih dibanding dengan apa yang aku alami. 2 Korintus 5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Tatkala harus menghadapi gelap pekat di kayu salib, dan terlebih ketika Allah seolah membalikkan diri terhadap-Nya, maka sesungguhnya ini adalah kesepian yang paling menyakitkan bagi Yesus yang dalam keadaan sebagai Manusia. Ya itu memang puncaknya, namun sebelum penyaliban itu pun kurasa bukan hal yang mudah untuk menghadapi penghinaan dan penderitaan yang hebat seorang diri. Dikhianati, disangkali, ditinggalkan adalah satu paket kesepian yang Yesus alami untuk kita. Ia melewati kesepian yang mengerikan ini agar kepenuhan sejati dan damai sejahtera-Nya dapat kita alami. Yesus mampu mengisi kekosongan hatimu.
Kembali ke cerita awal, bahwa pasca berakhirnya relasi dengan orang tersebut membuatku bergumul dengan rasa sakit, kekhawatiran bahkan ketidak percayaan baik kepada orang lain maupun dirisendiri. Namun, Tuhan pun mengajarkanku bahwa Dia bekerja dibalik segala sesuatu untuk kebaikanku, dan berlaku juga hal yang sama bagimu. Aku dan kamu tidak sendiri. Rasa sepi itu hanyalah tipu daya iblis untuk membuatmu merasa tidak dikasihi oleh Tuhan. Sepenggal pengalaman yang kutulis diatas adalah satu dari banyaknya cerita dibalik rasa sepi yang kualami. Tapi, bukan berarti aku terpuruk lagi didalamnya. Kedepan mungkin perasaan ini akan kembali hadir dengan situasi yang berbeda, tapi justru yang menjadi kekuatan bagiku adalah perasaan sepi tidak akan mampu membuat harapanku hilang dan menganggap diri ditinggalkan karna sesungguhnya Dia ada bersamaku. Dia hadir dalam setiap musim hidup kita. Karna fokus pada masalah sendiri kita memang sering lupa fakta bahwa Yesus sekali-'kali tidak membiarkan dan meninggalkan kita.
Ingat dan percayalah bahwa dia ada dan selalu
berjalan Bersama kita. You are not alone,
I am not alone. Amin
