This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 13 Maret 2024

BELAJAR BERKATA "TIDAK"









Salah satu hal yang menjadi tantangan dalam kepribadian saya  adalah ketika saya terlalu menggantungkan diri pada apa yang orang lain pikirkan tentang saya. Misalkan ada hal yang saya kurang setujui namun saya bersikap seolah menyetujuinya agar tidak dinilai sebagai orang yang kaku atau tidak sefrekuensi. Buruknya,sikap seperti ini berlangsung dalam waktu yang lama dan terus berulang. Dalam momen refleksi diri, saya mendapati bahwa saya adalah orang yang menghadirkan kedamaian semu. Ada titik dimana saya merasakan krisis jati diri karena berpura-pura dalam banyak hal termasuk dalam pelayanan yang Tuhan percayakan saat ini.

Saya merasa bahwa ini tidak hanya dialami oleh saya seorang diri. Banyak dari kita yang sering merasa bersalah jika memiliki pemahaman berbeda dengan orang lain. Kita ingin disukai dan tidak ingin mengecewakan orang lain. Kita mungkin berpikir bahwa jika kita berkata "tidak" pada orang lain adalah sesuatu yang terasa tidak seperti yang Kristus inginkan. Tapi, mari renungkan teladan Yesus. Apakah Dia mengecewakan orang lain atau tidak:
• Dia berkata "tidak" pada kerumunan orang yang ingin menjadikan-Nya raja (Yoh 6:14-16)
• Dia berkata "tidak" kepada Petrus yang menginginkan-Nya untuk menghindari Salib (Mat 16:21-23)
• Dia berkata "tidak" kepada keluarga-Nya yang ingin supaya Dia kembali pulang (Mrk 3:31-34)
• Dia berkata "tidak" pada orang-orang yang ingin supaya Dia turun dari salib demi memastikan bahwa Dia adalah Anak Allah (Luk 23:35-39)
Jika Yesus tidak berkata "tidak", karena takut mengecewakan orang lain maka misi keselamatan tidak akan terlaksana. Dia akan hidup menurut ekspetasi orang lain dan bukan berdasarkan harapan-Nya sendiri seandainya Dia melakukannya.

Saya bersyukur bagian ini boleh kembali ingatkan saya bahwa kita harus mampu mengatan "tidak" jika kita ingin mampu berkata "ya" yang sehat. Selama ini saya terbalut dengan karakter penurut padahal sebenarnya dalan hati ada rasa tidak nyaman dan keterpaksaan. Tentunya ini dalam konteks yang benar. Jika saya salah, maka saya pun akan terbuka dengan teguran dan arahan orang lain. Namun yang saya mau sampaikan dalam konteks ini adalah sikap atau tindakan yang kurang bijak (ini bukan tentang tindakan yang salah) namun tetap saya iyakan demi menjaga perasaan orang lain yang kemudian ujungnya menghasilkan kemarahan dalam hati.

Bagi orang berkarakter introvert ini memang bukanlah hal mudah. Namun, Tuhan akan menolong kita untuk bisa memikirkan dan bertidak yang tepat meskipun konsekuensinya ada ketidaksepahaman dengan orang lain. Amin

Kamis, 08 Februari 2024

SPIRITUALITAS YANG SEHAT SECARA EMOSI

 





Salah satu hal yang saya syukuri adalah ketika boleh menyelesaikan bacaan buku ini. Dengan berbagai kendala baik dari luar maupun oleh karena diri sendiri, akhirnya saya bisa berada pada halaman yang ke 262 sebelum berada pada catatan-catatan kutipan pustaka sebagai penutup.

Saya tidak dalam konsep untuk merivew buku ini, tapi lebih kepada menceritakan kembali apa yang saya terima atau bagaimana Tuhan berbicara kepada saya melalui buku yang ditulis oleh seorang bernama Peter Scazzero ini.

Ada yang berkata bahwa umur tidak menjadi tolak ukur seseorang menjadi dewasa. Dalam hal kerohanian pun saya punya pandangan bahwa keaktifan seseorang melibatkan diri dalam pelayanan juga bukan menjadi patokan akan tidak atau adanya kedewasaan orang tersebut secara rohani. Buku ini memberikan gambaran bahwa dewasa secara rohani mustahil kita alami tanpa adanya kedewasaan dalam emosi kita. Penulis menggambarkan bagaimana tanda dari orang yang tidak dewasa secara emosi sampai kepada bagaimana kita dapat menjadi orang yang dewasa secara emosi. akhir buku ini pun menarik, karena disuguhkan dengan langkah-langkah untuk kita membuat aturan hidup yang menuntun kita untuk sehat secara emosi dan rohani. Salah satunya adalah melakukan ibadah harian. Ada panduan yang diberikan untuk para pembaca.

Dalam buku ini, penulis menceritakan juga bahwa ia sempat berhenti (Sabat) dari segala rutinitas tersebut demi kesehatan emosi dan kedewasaan rohaninya sendiri. Hal ini diperlukan agar kita tidak menjadi pembawa damai palsu. Berusaha merangkul dan menuntun orang lain untuk bertumbuh, bahkan kita sendiri pun menunjukkan diri selayaknya orang yang bertumbuh, namun sebenarnya ada bongkahan es yang tidak tersentuh dalam diri kita.  Akar kita sama sekali tidak terjamah atau tersentuh. Kenapa demikian? Karena kita tidak menikmati Kristus dalam hidup kita sendiri. Kita sering sibuk bagi Tuhan tapi justru tidak memiliki kebersamaan dengan Tuhan.

Membaca buku ini seperti bercermin kepada diri saya sendiri yang sering menghindari konflik, menunjukkan diri sebagai orang Kristen yang taat dan yang mengasihi Kristus, namun pada akhirnya sering mengeluh, sering merasa lelah, bahkan membenci orang lain dalam diam. Pada akhirnya semua ini menekan saya dan membuat segala hal yang saya lakukan terasa memuakkan. Saya sadar sepenuhnya bahwa sampai saat ini saya masih terus berproses dalam spiritual yang sehat secara emosi. saya masih belajar untuk berserah pada kehendak-Nya, dan membiarkan Roh Kudus menolong saya untuk bertumbuh didalam-Nya meskipun secara perlahan, dan meninggalkan segala tindakan yang membuat saya justru stunting secara rohani. Dengan demikian kasih terhadap Allah, kasih terhadap sesama bahkan diri sendiri dapat terus terwujud. Kasih tidak akan pernah gagal untuk mengajarkan apa yang seharusnya kita lakukan. Mari biarkan Tuhan untuk terus menjangkau bagian hidup kita bahkan yang terdalam sekalipun. amin

Senin, 01 Januari 2024

2024 dalam penyertaan TUHAN

         Seperti belum lama rasanya saya berada di akhir tahun 2022. Kini, sudah ada di penghujung 2023.
         Teringat setahun yg lalu saya membuat catatan resolusi untuk tahun 2023. Sebuah minibook kecil khusus untuk menulis beberapa catatan penting yang ku lalui di tahun 2023

        Menyadari bahwa sudah setahun dilalui dan nyatanya tak ada yang berubah,
Membuat semangat menjemput tahun baru itu sudah tidak sama seperti dulu. 
Kegagalan
Patah hati
Putus asa
Khawatir
Depresi
Lelah
Daftar diatas yang akan mendapatkan tanda centang jika seandainya tercatat otomatis dalam realitas pencapain tahun ini. Jujur, tahun ini adalah tahun dimana aku mengalami depresi yang berkali-kali muncul.
Tahun ini pun adalah tahun dimana saya tidak berdoa dan saat teduh pribadi saat ulang tahun karena berpikir bahwa percuma bersyukur dan buat permohonan karena pada kenyataannya Tuhan tak mendengar apa yang saya pinta.
Hari natal tahun ini pun terasa biasa saja dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Biasanya setiap bulan desember saya akan buat challege dengan adik-adik PA untuk PI sebanyak mungkin orang, tapi tahun ini semangat itu tak ada lagi. Kasih mula-mula akan Kristus tak dapat dipungkiri seakan memudar. Hingga pada akhirnya, saat membuka media sosial, sebuah video pendek dari Warung Saat Teduh Kaum Muda membuat saya menangis.

Sekalipun banyak harapanku tak tercapai,
Impianku tak jadi kenyataan,
Sekalipun pencapaianku mengecewakan,
Sekalipun aku masih banyak bergumul dalam banyak hal dihidupku,
Rutinitasku yang membosankan,
Berurusan dengan banyak orang ruwet,
Dan terus jatuh bangun dalam kehidupan kristenku,
Namun aku akan bersorak-sorak didalam Allah
Beria-ria didalam Dia yang menebus dan menyelamatkanku dan yang selalu ada bersama umat-Nya yang lemah dan hancur hati.
Bila sampai hari ini aku masih berdiri, bukan karena kuat dan hebatku
Tuhan yang berdaulat adalah sumber kekuatanku
Ia memampukanku melangkah
Menyambut satu lagi lembaran tahun yang baru

Selamat tinggal 2023
Shalom 2024

Mazmur 62:7 (TB) Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.

Selasa, 20 Juni 2023

KENAPA HARUS SAYA?

Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, pertama kali saya ditunjuk menjadi pembaca teks UUD saat upacara. Jika diingat-ingat mungkin itu awal mulanya saya berubah kepribadian menjadi orang yang introvert. Meskipun rasa gugup adalah hal yang wajar, tapi respon saya terhadap rasa gugup saat itu sangatlah tidak wajar karena bukan hanya tangan dan suara, bahkan kaki dan pipi saya kala itu bergetar. Anehnya, pada upacara di minggu-minggu selanjutnya saya tetap  ditunjuk untuk membaca undang-undang. Kenapa harus saya? Itu yang saya tanyakan kepada mereka. Sebab dari kejadian itu seharusnya mereka sadar bahwa saya tidak mampu untuk membaca Undang-Undang Dasar dengan baik.

Pernahkah kalian juga bertanya baik kepada diri sendiri atau orang lain dengan kata-kata "Kenapa harus saya?" Kenapa bukan orang lain saja yang menurut kita lebih mampu. Entahkan itu dalam dunia pekerjaan, dalam lingkup sekolah, dalam pelayanan,  atau dimanapun kita berada pertanyaan ini bisa saja muncul, entakah itu karena faktor malas atau tidak mau melakukan sesuatu yang menyusahkan kita, atau karena faktor kitanya yang kurang percaya diri sehingga kita bertanya "Kenapa harus saya?"

Sewaktu Tuhan memanggil Musa dan memintanya untuk membawa Israel keluar dari Mesir, ia menolak. Ia beralasan, "Ah, Tuhan. Aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah" (Keluaran 4:10). Perhatikan jawaban Tuhan pada ayat berikutnya, "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan?" Tuhan ingin mengutus Musa melakukan pekerjaan-Nya tetapi Musa merasa tidak berkemampuan cukup untuk melakukan tugas itu. Jawaban Tuhan menegaskan bahwa Tuhan tahu kondisinya " sulit bicara " sebab Tuhanlah yang membuatnya seperti itu. Kendati Musa minder, Tuhan tetap memanggil dan akhirnya mengutusnya. Selama 40 tahun Tuhan memakai Musa memimpin Israel keluar dari Mesir. Keminderan Musa tidak menghalangi Tuhan memanggil dan memakainya; keterbatasan Musa tidak merintanginya melaksanakan dan menggenapi pekerjaan Tuhan.

Sudah sebulan sejak saya membentuk kelompok pemuridan dengan beberapa orang kunci di tempat saya Tuhan percayakan untuk melayani,yaitu Komisi Pemuda. Saya beryukur dari mereka saya banyak belajar tapi juga sekaligus mengajar mereka untuk bersama-sama bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Mereka pun dengan rendah hati mau belajar cara cerita injil, meskipun ada diantara mereka yang berlatar belakang teologi. Singkatnya, pada minggu yang lalu mulai ada multiplikasi dan kemudian saya membentuk kelompok PA yang baru dengan orang-orang berbeda tentunya. Tapi, sesudah pertemuan perdananya kami, ada hal yang membuat saya seakan tak bersemangat lagi. Pengaruh kata-kata dari teman pemuda ini sangat besar efeknya bagi saya. Mungkin ini juga salah satu bagian dari kelemahan saya yang mudah terpengaruh dengan penilaian orang akan diri sendiri. Tapi saya tak mau menyangkali bahwa ini sangat mengusik hati saya sampai-sampai di minggu yang baru lewat ini saya melewatkan jadwal PA kami. Teman saya itu berkata bahwa apa yang saya bagikan tak cukup membuatnya yakin karena saya bukan berlatar belakang Teologi. Mungkin karena penjelasan saya yang terbata-bata dalam cerita injil ataupun dalam merespon pertanyaannya. Memang Seharusnya penolakan seperti ini menjadi hal yang wajar bagi saya karena semasa kampus dulu saya pernah diajarkan bahwa membawa seseorang menerima Kristus itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Akan tetapi, entah kenapa dari kejadian ini timbul pertanyaan dalam diri " Kenapa harus saya?" Kenapa saya harus ditempatkan disini, melayani disini, dan bertemu dengam kepribadian orang-orang seperti ini. Kenapa Tuhan harus membuat saya yang orang awam ini untuk melayani-Nya. 

Setelah direnungkan, sama halnya dengan Musa, ternyata banyak tokoh Alkitab pun yang demikian. Mereka mengeluh tatkala harus menerima tugas dari Tuhan. Tapi, Tuhan berjanji bahwa Dia yang akan menyertai mereka melalui semua tantangan yang ada. Tuhan dapat memakai siapa saja dan Tuhan tau sejauh apa kita mampu memikul salib untuk melayani Dia.


Kiranya kita semua pun tetap semangat dan terus bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Kamu pasti mampušŸ™

Amin...



Sabtu, 19 November 2022

OVERTHINKINGšŸ¤•

       foto banyak pikiran sebagai Pemanis🤣


"Eh pena ada pikir-pikir apa ini?" Kalimat berbahasa Manado yang Jika dibahasa indonesiakan artinya adalah "penatua sedang memikirkan apa? " Pertanyaan ini sudah kesekian kalinya saya dengar selama masa saya menjadi penatua pemuda di jemaat tempat saya tinggal. Sering menghayal dan susah mengambil keputusan yang tepat. Sejak kuliah memang sudah seperti ini dan semakin parah ketika sudah jadi alumni. Saya coba cari tau , dan ditemukanlah sebuah kata dalam bahasa inggris, yaitu "Overthinking"

Sebagian besar orang disegala usia mengalami hal ini. Mereka yang sedang study, bekerja maupun yang sedang mencari pekerjaan, berkeluarga bahkan mereka yang dipercayakan menjadi hamba Tuhan kebanyakan akan ada pada titik ini "Overthinking". Seorang overthinker biasanya akan memikirkan sesuatu hal yang telah terjadi dan belum terjadi.  Penyebabnya sendiri bisa karena terlalu fokus akan satu kekhawatiran. Bahayanya adalah keseringan Overthinking dapat memicu stress yang berujung pada depresi dan tentunya membuka peluang pada tindakan-tindakan ekstrim seperti menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri.

Saya tidak akan membahas terlalu mendalam mengenai arti atau makna Overthinking ini, karena bukan seorang ahli psikologi. Tapi, saya cukup paham dan dapat mengerti bagaimana rasanya, karena setelah mempelajari hal ini, tak dapat dipungkiri ternyata saya pun mengalaminya. Tidak setiap hari, tapi cukup sering. Gejalanya dapat berupa sakit kepala dan rasa cemas berlebih hingga kesulitan tidur. Saya teringat pada awal pelayanan saya sebagai penatua, yaitu ibadah perdana pemuda di tahun 2022, tepatnya pada tanggal 15 januari yang lalu, saya mengalami kesulitan tidur hingga tidak menyadari bahwa hari sudah berganti. Yang saya pikirkan saat itu bukanlah hal-hal yang vital , tapi lebih kepada memikirkan keputusan saya mengiyakan pelayanan ini dan apa yang akan terjadi di 5 tahun kedepan. Jantung saya terasa sakit dan keringat dingin ditangan tak berhenti keluar.

Ingin sekali berdoa tapi tidak bisa fokus..
Ingin sekali membaca firman tapi terlalu banyak yang dipikirkan.

Sampai suatu ketika, karena kesulitan ini maka saya mencoba mendengar firman lewat video khotbah dan lagu Cover NDC dari Yeshua Abraham yang berjudul "Tak Terbatas Kasih-Mu". Liriknya seperti ini :
Semusim berlalu,
Namun Kau s'lalu p'liharaku
Kasih dan setia-Mu
Tak pernah layu di hidupku

Lebih luas dari samud'ra
Kebaikan-Mu Bapa takkan habis di hidupku
Lebih tinggi dari cakrawala
Tak terbatas kasih-Mu
Sungguh kubersyukur

Apakah anda juga alami hal ini? Mungkin masalahnya berbeda. Bisa jadi itu karrna keuangan, hubungan keluarga, pekerjaan, kesehatan dan hal lainnya. Ingatlah hal ini baik-baik!
Ada banyak hal baik yang sudah anda dan saya alami. Keberadaan kita saat ini adalah bukti pemeliharaan Allah. Anugerah selamat yang Allah anugerahkan melalui Yesus Kristus lewat pengorbanan-Nya disalib bukan hanya teori yang harus kita ketahui, tapi harus kita nikmati. Ia berjanji tak akan pernah meninggalkan kita (Ibrani 13:5), selalu mengasihi kita (Yeremia 31:3 dan memberikan kita harapan akan hari depan (Yeremia 29:11).

Ayo hilangkan Overthinking..
Jangan biarkan jadi penghambat untuk kita menjalani hidup dan malah menyakiti diri kita dengan pikiran-pikiran tentang hal yang belum tentu terjadi. Memang tidak mudah dan butuh proses,  tapi percayalah Tuhan pasti akan menolong, dan melaui firman-Nya Dia akan terus menuntun jalan hidup kita.
Amin...
Soli Deo Gloria

Minggu, 05 Juni 2022

BELAJAR MERASA CUKUP

 

    

Ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. —1 Timotius 6:6

        Beberapa hari yang lalu aku menghabiskan beberapa jam dalam media social. Aku tidak sedang sibuk untuk berkomunikasi atau melakukan hal-hal yang penting didalamnya. Menurutmu apa yang aku lakukan? Jangan terkejut jika aku mengatakan bahwa yang aku lakukan adalah sedang melihat-lihat profil atau unggahan teman-teman yang sudah berhasil hidupnya. Tak ketinggalan juga para selebgram yang hidup dalam kemewahan. Yang paling menarik perhatianku adalah seorang artis cantik dan berpendidikan yaitu Maudy Ayunda yang baru-baru ini dilamar oppa tajir dari Korea. Wah..betapa beruntungnya hidup mereka. Aku mulai membanding-bandingkan hidupku dengan mereka. Ok lupakan Maudy karena memang hayalanku terlalu tinggi jika ingin sepertinya. Tapi, bagaimana dengan mereka yang hidupnya justru terlihat berhasil? Ya okelah meskipun  aku tidak tau proses yang mereka telah lewati dibalik keberhasilan itu, tapi yang aku tau prosesku dan mereka tidak jauh berbeda. Tapi, kenapa mereka justru bisa berhasil? Aku mulai mengaitkan kegagalan demi kegagalan yang ku alami dan melihat diri sendiri sebagai orang yang tidak merasa cukup. 
 
      Sahabat, Dunia tidak akan pernah benar-benar menjawab kebutuhan kita. Sebaliknya, Paulus ingin Timotius mendasarkan identitasnya pada Allah: “Ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar”. Nilai diri kita tidak bisa diukur oleh hal-hal duniawi. Yesus telah menunjukkan betapa mahalnya nilai diri kita. Waktu IA mati di kayu salib, maka kita diingatkan kembali bahwa pengorbanan-Nya tidak hanya tentang keselamatan kekal yang dapat kita miliki saat percaya, melainkan juga tentang fakta bahwa kasih yang IA tunjukkan sudah cukup. Ia memberikan rasa kepuasan sejati bagi setiap orang percaya. Objek Cinta Allah tidak berubah. Yang sering berubah justru adalah objek cinta kita. Alkitab sendiri mengatakan bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang. masalah timbul ketika uang menjadi objek cinta kita. Pada akhirnya kita sering menemukan diri kita sebagai orang yang sering merasa tidak cukup.

 

Melihat bahwa aku mulai mengalihkan objek cinta yang seharusnya fokus pada Tuhan, aku pun tertunduk dan menyesal. Memohon pengampunan dan pembaharuan diri dari Tuhan sehingga hal ini pun mempengaruhi rasa cukup dalam hidupku secara keseluruhan. Hanya Yesus yang sanggup memuaskan keseluruhan jiwaku. Tak ada yang lain. Dan aku pun percaya hal sama berlaku juga untukmu. Amin

Jumat, 22 April 2022

I am Not Alone


Ulangan 31:6

Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.

 

Dalam sebuah artikel Kompas.com, kesepian merupakan sebuah emosi kompleks ketika seseorang merasa tidak diperhatikan, tidak berharga, sendirian, merasa tidak terhubung dengan orang lain, ataupun perasaan tidak dicintai. Kondisi ini juga dapat diartikan sebagai sebuah keadaan merasa terpisah dengan orang lain. Hal ini tentu dirasakan oleh setiap orang dan sebenarnya ini hal yang wajar apalagi dalam situasi dan kondisi pandemi seperti saat ini. Akan tetapi, hal yang tidak wajar adalah ketika perasaan ini terjadi terus menerus maka akan berakibat fatal, baik untuk kesehatan fisik maupun jiwa.

Perasaan kesepian ini juga tentunya tak lepas dari diriku secara pribadi. Aku menulis blog ini tidak untuk menunjukkan bahwa aku adalah orang yang paling kesepian di dunia, tapi setidaknya apa yang aku lewati dalam proses kesepian ini dapat menjadi berkat bagi siapa yang membacanya yang mungkin sedang mengalami hal serupa termasuk juga bagiku ketika kembali harus diperhadapkan pada situasi seperti ini suatu saat nanti.

Mengawali tahun ini, aku diperhadapkan pada banyak pilihan yang rumit. Itu menurutku. Entah orang lain punya cara pandang yang berbeda, namun bagiku ini bukanlah hal yang mudah. Tuhan memberikanku tangung jawab melayani dikampung halaman untuk waktu yang cukup lama, yaitu 5 tahun. Sejak lulus kuliah, aku sering terhubung dengan komunitas aku melayani. Tour pelayanan Bersama, ibadah dan doa Bersama, termasuk hang out Bersama. Aku sangat menyatu dengan mereka karena merasa sangat diterima. Bahkan, dalam situasi pandemi sekalipun tidak membuat semangatku hilang untuk bisa tetap ada bersama dalam setiap kegiatan pelayanan dengan mereka. Sampai pada akhirnya, ketika aku memutuskan untuk berkomitmen  melayani disini, aku justru mengalami kesulitan untuk bisa terhubung secara langsung dengan mereka. Banyak pelayanan yang tidak bisa kuikuti karena harus fokus ditempat ini. Terpisah dari tempat yang membuatku nyaman ternyata dapat mendatangkan rasa kesepian dalam diriku. Aku kekurangan waktu dengan mereka untuk berbagi masalah dan kisah hidup. Aku tak bisa menemukan orang yang benar-benar paham akan keadaanku di tempat ini. Syukurlah Tuhan menghadirkan aku seseorang yang menjadi pengingat yang kuanggap sebagai pengisi relung hatiku yang kosong dalam sebuah komitmen hubungan. Aku bisa berbagi dalam kasih, menceritakan segala pengalaman bahkan pergumulan hidup yang dihadapi. Bahkan, aku disadarkan bahwa tidak seharusnya aku terus-menerus ada dalam zona nyaman yang kuciptakan sendiri.

Memanglah benar bahwa manusia pada dasarnya tidak dapat memberikan kepenuhan apapun dalam dirinya jika hal itu diluar daripada Kristus sendiri. Selama kurang lebih 4 bulan dalam kondisi hubungan yang usai setelah kurang lebih 3 tahun lamanya dalam komitmen relasi pacaran. tentunya membuat perasaan hampa dan kosong kembali hadir. Meskipun ada ditengah-tengah orang banyak, perasaan ini tetap saja ada menggerogoti dan berusaha masuk ke dalam jiwaku. Kesepian ini sering membatku mengingat hal-hal menyakitkan yang terjadi. Tanpa  disadari ini menunjukkan bahwa aku menjadikan manusia sebagai yang utama dan menempati tahta hati. Aku menerima Kristus tapi tidak membiarkan Dia yang berkuasa, sehingga hampir setiap saat aku menjadi orang yang mulai menyalahkan Tuhan dan menganggap bahwa Dia tidak ada bersamaku dalam keadaan yang sulit. Syukurlah ada banyak cara yang Tuhan pakai untuk mengingatkanku bahwa aku tidak sendiri. Ia memperbaharuiku setiap hari. Ruang hati yang kosong hanya dapat diisi oleh-Nya. Ia memberikan kepenuhan yang sejati. Momen perayaan Jumat Agung dan paskah yang baru lewat kembali menyadarkanku bahwa Yesus pun pernah mengalami kesepian yang mengerikan dan jauh lebih dibanding dengan apa yang aku alami. 2 Korintus 5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh AllahTatkala harus menghadapi gelap pekat di kayu salib, dan terlebih ketika Allah seolah membalikkan diri terhadap-Nya, maka sesungguhnya ini adalah kesepian yang paling menyakitkan bagi Yesus yang dalam keadaan sebagai Manusia. Ya itu memang puncaknya, namun sebelum penyaliban itu pun kurasa bukan hal yang mudah untuk menghadapi penghinaan dan penderitaan yang hebat seorang diri. Dikhianati, disangkali, ditinggalkan adalah satu paket kesepian yang Yesus alami untuk kita. Ia melewati kesepian yang mengerikan ini agar kepenuhan sejati dan damai sejahtera-Nya dapat kita alami. Yesus mampu mengisi kekosongan hatimu. 

Kembali ke cerita awal, bahwa pasca berakhirnya relasi dengan orang tersebut membuatku bergumul dengan rasa sakit, kekhawatiran bahkan ketidak percayaan baik kepada orang lain maupun dirisendiri. Namun, Tuhan pun mengajarkanku bahwa Dia bekerja dibalik segala sesuatu untuk kebaikanku, dan berlaku juga hal yang sama bagimu. Aku dan kamu tidak sendiri. Rasa sepi itu hanyalah tipu daya iblis untuk membuatmu merasa tidak dikasihi oleh Tuhan. Sepenggal pengalaman yang kutulis diatas adalah satu dari banyaknya cerita dibalik rasa sepi yang kualami.  Tapi, bukan berarti aku terpuruk lagi didalamnya. Kedepan mungkin perasaan ini akan kembali hadir dengan situasi yang berbeda, tapi justru yang menjadi kekuatan bagiku adalah perasaan sepi tidak akan mampu membuat harapanku hilang dan menganggap diri ditinggalkan karna sesungguhnya Dia ada bersamaku. Dia hadir dalam setiap musim hidup kita. Karna fokus pada masalah sendiri kita memang sering lupa fakta bahwa Yesus sekali-'kali tidak membiarkan dan meninggalkan kita. 

 Ingat dan percayalah bahwa dia ada dan selalu berjalan Bersama kita. You are not alone, I am not alone. Amin